Sunday, March 10, 2013

'Yang Miskin Tak Boleh Sedih, Sepakbola Ajarkan Kerja Keras'

Bandung - Nasib mungkin belum berpihak, tapi kerja keras tak boleh berhenti. Kaum marjinal selalu punya harapan untuk berubah, termasuk jika mediumnya adalah melalui permainan sepakbola.

Demikian motivasi dari tokoh muda Bandung yang juga arsitek dan ahli tata kota, Ridwal Kamil, saat menghadiri hari pertama turnamen street soccer bertajuk League of Change (LoC) yang digagas oleh Rumah Cemara di kota Bandung, Minggu (10/3/2012).

LoC adalah turnamen yang para pemainnya adalah penderita/pengidap virus HIV/AIDS, (mantan) pengguna narkoba, dan kaum miskin kota. Hingga kini oleh sebagian masyarakat mereka masih dipandang berbeda dan menjadi kaum yang terpinggirkan.

Dalam sambutannya, Emil -- sapaan Ridwan -- mengingatkan supaya mereka tidak berkecil hati dalam mengarungi kehidupan.

"Kita yang miskin enggak boleh sedih. Harus bergembira. Sepakbola mengajarkan kerja keras, kerja sama, dan fair play," ujar Emil di tempat turnamen di Lapangan Bandung Wetan (Bawet) di kawasan Balubur, Kota Bandung.

Mengusung tema "Keadilan Sosial Bersepakbola Bagi Seluruh Rakyat Indonesia", ini adalah kali kedua LoC diselenggarakan Rumah Cemara. Turnamen ini juga dimaksudkan sebagai seleksi pemain buat tim yang akan mewakili Indonesia di ajang Homeless World Cup 2013 di Polandia.



"Sudah dua kali tim Indonesia mengirimkan pemainnya ke Homeless World Cup. Nah, untuk ketiga kalinya atau 2013 ini, kami mempersiapkan juga pemain-pemain yang berpartisipasi dalam LoC," terang Ketua Penyelenggara LoC, Bogiem Sofyan.

Proses seleksi, lanjut Bogiem, dilakukan setelah turnamen LoC tuntas. Rencananya pemain yang akan dipilih sebanyak 15 orang, lewat penilaian yang objektif, karena pihak penyelenggara juga telah menetapkan tim scouting.

"Dari jumlah tersebut, nantinya diseleksi menjadi delapan orang. Mereka itulah yang nantinya mewakili timnas Indonesia ke Polandia," tutur Bogiem.

Di bawah Jembatan Pasteur-Surapati (Pasupati) Bandung, tim-tim peserta bertanding merebutkan piala bergilir Di lapangan berukuran 26 x 15 meter itulah perwakilan tim dari sembilan provinsi berlaga selama tiga hari (10-12 Maret).



Tahun lalu kegiatan serupa juga digelar di tempat yang sama. Dari situ kemudian tim Indonesia mengikuti Homeless World Cup di Mexico City, Meksiko, dan berhasil menembus babak semifinal, dan finis di tempat keempat. Di tahun sebelumnya kontingen Merah Putih berada di peringkat keenam.

Cerita menarik dan mengharukan terjadi ketika Rumah Cemara mempersiapkan tim untuk ke Mexico City. Walaupun tim sudah terbentuk mereka sempat nyaris tidak bisa berangkat karena kendala finansial. Harapan mendapat dukungan dana pemerintah tidak terwujud.

Berkat penggalangan dana dari masyarakat, melalui program bertajuk #1000untuk1, akhirnya terkumpul dana untuk memberangkatkan tim. Beberapa sponsor pun akhirnya ikut membantu program tersebut. Tim kemudian dilepas oleh masyarakat, bukan pejabat dan semacamnya, di sebuah lapangan terbuka di kota Bandung. Ketika pulang ke tanah air, mereka membawa trofi empat besar plus penghargaan pelatih terbaik.


( bbn / a2s )

0 comments

Post a Comment